Jadwal Sholat

Kamis, 18 September 2014

Kisah Rasulullah Menguak Kebohongan Yahudi


Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh'
Ketika Rasulullah hijrah ke Madinah, selain orang-orang yang telah beriman, di kota itu ada kelompok orang-orang musyrik dan orang-orang Yahudi. Pada hari-hari pertama, Rasulullah segera mengetahui karakteristik masing-masing kelompok saat berinteraksi dengan mereka.
Bagaimana Rasulullah mengetahui orang-orang Yahudi adalah kaum pembohong, sementara di Makkah tidak ada kaum Yahudi dan beliau baru pertama kali bertemu mereka di sini? Berikut kisahnya.
Rasulullah kedatangan seorang tamu. Ia adalah Hushain bin Salam, seorang pendeta Yahudi yang akrab dengan Taurat dan Injil. Dari kedua kitab yang telah dibacanya itu, Hushain mengetahui bahwa akan ada Nabi terakhir yang diutus Allah. Untuk itulah Hushain menemui Rasulullah untuk memastikan apakan beliau Nabi atau bukan.
Hushain kemudian mengajukan sejumlah pertanyaan yang tidak bisa dijawab kecuali oleh seorang Nabi. Mendapati Rasulullah dapat menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut, Hushain kemudian masuk Islam. Rasulullah memberinya nama baru: Abdullah bin Salam.

“Wahai Rasulullah, kaum Yahudi adalah kaum pendusta,” kata Abdullah bin Salam mengungkapkan karakteristik kaumnya, “Engkau bisa menguak kedustaan mereka, sementara aku akan bersembunyi dulu ketika mereka datang kemari”

Tak lama setelah itu, beberapa orang Yahudi datang menemui Rasulullah.
“Apakah kalian mengenal Hushain bin Salam?” tanya Rasulullah.
“Ya, tentu saja. Dia adalah orang yang paling mengetahui agama diantara kami, ia juga anak orang yang paling mengetahui agama. Dia orang yang jujur, tidak pernah berdusta. Ia tokoh kami yang berhimpun kebaikan-kebaikan dalam dirinya,” jawab mereka membanggakan Abdullah bin Salam.
“Bagaimana seandainya Hushain bin Salam masuk Islam?”
“Itu tidak mungkin wahai Muhammad. Apakah engkau begitu inginnya kami masuk Islam hingga harus mengarang cerita palsu. Jangan berharap Hushain bin Salam masuk Islam dan jangan berharap kami mengikuti agamamu.”
“Sungguh benar apa yang dikatakan oleh Rasulullah,” kata Abdullah bin Salam sambil mendekati mereka yang tampak terkejut menyadari dirinya ada di sini, “Aku telah masuk Islam”
Orang-orang Yahudi itu saling pandang. Mereka segera menghilangkan raut keterkejutan dari wajah mereka.
“Engkau pendusta wahai Hushain. Wahai Muhammad, Hushain ini adalah orang yang tidak memiliki kedudukan di sisi kami. Tidak ada kebaikan pada dirinya” kata mereka kemudian pergi meninggalkan Rasulullah.
Demikianlah Rasulullah segera mengetahui karakteristik kaum Yahudi pada hari-hari pertama berada di Madinah. Rasulullah sadar, kelompok yang dihadapinya ini seperti belut. Licin, suka bersilat lidah, suka berbohong dan mendustakan. Persis seperti firman-firman Allah dalam Al Qur’an yang mengisahkan bahwa mereka mengkhianati dan membunuhi para Nabi.

Kelak, Rasulullah mendapatkan bukti yang lebih besar. Saat tiga kabilah Yahudi di Madinah, mereka semua mengkhianati Piagam Madinah dan Rasulullah, satu per satu. Bani Qainuqa’, Bani Nadhir dan Bani Quraidhah.
Di luar Madinah, ada pula Yahudi Khaibar yang tak kalah licik dan keras permusuhannya terhadap umat Islam. Mereka berupaya menghancurkan Islam, tetapi makar Allah jauh lebih dahsyat daripada makar-makar mereka. [Kisahikmah.com, dari Pengajian Sirah Nabawiyah Ustadz H. Rofiul Fatta, M.Pd.I

Koalisi Internasional yang memerangi Islam dengan dalih melawan ISIS


SURIAH - Syaikh Abu Bashir Ath-Tharthusi menyampaikan sebuah risalah terkait koalisi internasional yang memerangi Islam dengan cara melawan Jamaah Daulah Islamic State (IS), atau sebelumnya dikenal sebagai Daulah Islam Irak dan Syam atau Islamic State of Irak and the Sham (ISIS), menggunakan dalih memerangi “terorisme”.
Syaikh Abu Bashir menegaskan bahwa mujahidin menolak keberadaan koalisi internasional ini serta mengharamkan dan menganggap dosa umat dan para putranya yang berniat untuk bergabung atau bekerjasama dengannya.
Namun dia juga memaparkan bahwa banyak orang meributkan hukum bekerjasama dan berkomplot dengan koalisi internasional ini hingga mereka seakan terlupa akan orang-orang yang harus dimintai pertanggung jawaban karena telah menyebabkan semua ini terjadi.
Berikut risalah lengkap Syaikh Abu Bashir yang diterjemahkan oleh tim Muqawamah Media pada Selasa (16/9/2014) tersebut.
***
Syaikh Abdul Mun'im Musthafa Halimah
Syaikh Abdul Mun’im Musthafa Halimah “Abu Bashir Ath Tharthusi”
Sampai Kapan Kita Terus Berkutat dengan Dampak-dampak yang Ada Tanpa Beranjak untuk Memperhatikan Sebab-sebabnya?
Oleh: Syaikh Abu Bashir Ath Tharthusi

Semua orang berbicara tentang koalisi internasional yang diproyeksikan untuk memerangi apa yang mereka namakan sebagai ‘terorisme’, dengan alasan untuk memerangi Jamaah Daulah “ISIS”. Mereka bertanya-tanya apa hukumnya bagi orang yang bekerjasama dan berkomplot dengan koalisi ini untuk mencapai tujuannya? Namun mereka tidak memperhatikan sebab-sebab yang membantu terbentuknya koalisi antara negara-negara kafir internasional serta negara-negara munafik untuk memerangi negeri-negeri kaum muslimin.
Semua orang terlibat ingin mengklasifikasikan orang-orang, dan mengkafirkan siapa saja yang bekerjasama atau berniat untuk bekerjasama dengan koalisi internasional ini, namun mereka tidak melihat siapa sebenarnya yang menyebabkan terwujudnya koalisi ini? Siapa sebenarnya yang membantu akan terbentuknya koalisi ini, dan siapa sebenarnya yang mempermudah misinya, dan hingga kini masih terus membantunya?!
Bukankah ISIS dengan kebodohan dan kecerobohannya, dengan perbuatannya yang salah, dan dengan pengkhianatan sebagian dari mereka, yang telah membantu terbentuknya koalisi internasional ini dan menyebabkan seluruh negara-negara di dunia murka terhadap negeri-negeri kaum muslimin?
Bukankah ISIS dengan kebodohan dan kecerobohannya, dan dengan perbuatannya yang salah yang telah memberikan justifikasi secara moral dan politik kepada koalisi internasional ini? Dan mengumpulkan seluruh kalangan di penjuru dunia walaupun masing-masing saling berbeda, bertentangan dan berselisih untuk bersatu memerangi negeri-negeri kaum muslimin?
Kami dan juga orang-orang selain kami ingin mengatakan: Sesungguhnya kami menolak keberadaan koalisi internasional ini, kami juga mengharamkan dan menganggap dosa umat dan para putranya yang berniat untuk bergabung atau bekerjasama dengannya. Namun di mana sekarang orang-orang yang harus dimintai pertanggung jawaban karena telah menyebabkan semua ini terjadi? Di manakah mereka yang menolong dan masih terus menolong koalisi yang tujuannya busuk ini?
Sampai kapan kita harus berkutat dengan dampak-dampak yang ada tanpa beranjak untuk memperhatikan sebab-sebabnya? Sehingga dampak-dampak tersebut harus terjadi berulang kali di berbagai tempat dan waktu.
Perumpamaan kita dalam hal ini adalah seperti seseorang yang menyerahkan seorang tawanan lemah yang terbelenggu kepada singa buas yang lapar, sehingga singa itupun memangsanya. Dan ketika ia telah dimangsa, kita justru berdiam diri selama berbulan-bulan sambil terus mengutuk singa buas itu karena perlakuannya yang buruk terhadap sang tawanan yang lemah. Sementara sekalipun kita tidak pernah bertanya-tanya dan mengevaluasi, juga tidak pernah merubah kata-kata kita terhadap orang bodoh yang jahat lagi pengkhianat yang telah menyerahkan sang tawanan yang lemah itu kepada singa buas tadi!
Kita mengutuk kezhaliman dan kegelapan, namun sebagian dari kita adalah yang menyebabkan itu terjadi!
Kita mengutuk dominasi orang-orang kafir dan munafik terhadap negeri dan penduduk muslimin, namun sebagian dari kita adalah yang menyebabkan itu terjadi!
Kita mengutuk para pembunuh anak-anak, wanita dan lansia, namun sebagian dari kita adalah yang menyebabkan itu terjadi dan terlibat dalam melakukan hal yang serupa!
Kita melaknat penjajahan dan mengutuknya dalam waktu yang lama, padahal orang-orang bodoh di antara kita adalah yang menyebabkan itu terjadi dan menjadi penolongnya dalam keadaan sadar atau tidak sadar!
Sampai kapan kondisi ini akan terus berlanjut? Sampai kapan umat kita ini akan terus menjadi mangsa yang mudah tertangkap oleh nelayan?!
Sampai kapan kita akan terus bersikap longgar terhadap para musuh kita yang ingin menjalankan misinya di negeri-negeri kaum muslimin?!
Sampai kapan? Sampai kapan?!
Ya Allah berikanlah petunjuk kepada kaumku, karena mereka

- See more at: http://www.arrahmah.com/news/2014/09/16/risalah-syaikh-abu-bashir-ath-tharthusi-terkait-koalisi-internasional-yang-memerangi-islam-dengan-dalih-melawan-isis.html#sthash.m5JknDAa.dpuf


Injil berusia 1.500 Tahun. (higherperspective)
Injil berusia 1.500 Tahun. (higherperspective)

Perdebatan panjang tentang nasib Nabi Isa AS, atau Yesus Sang Juru Selamat dalam pandangan agama Kristen, tak pernah lekang ditelan bergulirnya zaman. Perdebatan itu bahkan tampaknya akan kembali menguat seiring klaim ditemukannya kitab Injil berusia lebih dari 1.500 tahun.
Menurut situs higherperspective.com yang dikutip situs Inilah.com hari Ahad (24/8/2014), dalam kitab Injil versi Barnabas yang ditemukan itu terdapat pernyataan bahwa Nabi Isa AS atau Yesus, tidak pernah disalib. Yang disalib adalah sahabat, Yudas Iskariot, atau dalam ajaran Islam disebut sebagai “orang yang diserupakan dengan Nabi Isa AS”, sebagaimana yang tercantum dalam Al-Quran surat An-Nisa ayat 157. Injil Barnabas dikenal sebagai Injil di luar Injil-injil kanonik yang direstui dan diresmikan Vatikan, yakni Injil-injil Matius, Markus, Lukas dan Yohanes.

Sejalan dengan sejarah yang dicatat Islam, Injil tua itu menyatakan bahwa Yesus langsung diangkat ke surga, sementara Yudas dengan iradah Allah disamarkan sehingga menyerupai Yesus dan disalibkan dalam prosesi sebagaimana yang diyakini selama ini.
Jika ditelusuri pada situs barnabas.net, di BAB 112 pada Injil Barnabas menyebutkan bahwa Nabi Isa (Yesus) bercerita kepada Barnabas bahwa dirinya akan dibunuh. Namun, kata Nabi Isa, Allah akan membawanya naik dari bumi. Sedangkan orang yang dibunuh sebenarnya adalah seorang pengkhianat yang wajahnya diubah seperti Nabi Isa. Dan orang-orang akan percaya bahwa yang disalib itu adalah Nabi Isa. ”Tetapi Muhammad akan datang… Rasul Allah yang suci,” kata Nabi Isa. Nama Nabi Muhammad juga disebut pada Bab 136, 163, dan 220. Jika dikaitkan antara isi injil Barnabas dengan berita dari higherperspective.com yang menyebutkan bahwa yang disalib adalah sahabat nabi Isa, maka berarti ini yang disalib adalah 
sahabat nabi Isa AS yang telah berkhianat.

Pada tanggal 28 Februari 2012 lalu telah diberitakan bahwa telah ditemukan di Turki sebuah Injil berusia 1.500 tahun yang menceritakan kedatangan Nabi Muhammad SAW. Menteri Budaya dan Pariwisata Turki pada saat itu, Ertugul Gunay, mengatakan sejalan dengan keyakinan Islam, Injil ini memperlakukan Yesus sebagai manusia bukan Tuhan. Fakta ini, sekaligus menolak ide konsep tritunggal dan penyaliban Yesus


Sumber: http://www.dakwatuna.com/2014/08/24/56175/injil-berusia-1-500-tahun-nyatakan-bukan-nabi-isa-yang-disalib/#ixzz3Df5qoCxS 
Follow us: @dakwatuna on Twitter | dakwatunacom on Facebook

Di Dalam Dakwah Tidak Ada Kata Menyerah!


makkah
Lihatlah dua orang laki-laki yang sedangberjalan setengah berlari itu. Mereka bukan pelancong yang sedang menikmati sejuknya udaraKota Thaif ini. Mereka bukan pula pedagang yang sedang mencari barang pertanian di kota puncak gunung ini. Siapakah dua orang laki-laki itu? Apa yang sedang mereka kerjakan di Kota Thaif ini?
Mereka adalah Rasulullah Muhammadshalallahu ‘alaihi wa sallam dan sahabatnya yang mulia Zaid bin Haritsah. Rasulullahshalallahu ‘alaihi wa sallam datang ke Thaif dengan berjuta harapan. Beliau datang menemui para pemuka Thaif untuk mencari pembelaan dalam menyebarkan Islam dan menghadapi kaumnya yang telah menentangnya. Namun para pemuka Thaif itu malah menolaknya mentah-mentah, “Pergilah kamu dari negeri kami!”Lalumereka mengerahkan orang-orang bodoh dan para budak mereka untuk menyerbu Rasulullahshalallahu ‘alaihi wa sallam; mencela dan meneriakinya.
Lihatlah, orang-orang dungu itu melempari kedua kaki Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam, hingga kedua alas kakinya berlumuran darah. Sementara Zaid berusaha melindungi beliau sampai ia sendiri mengalami beberapa luka berdarah di kepalanya.
Mereka terus melempar. Sesekali Rasulullahshalallahu ‘alaihi wa sallammerasakan sakitnya lemparan batu itu, beliau kemudian bersimpuh di tanah. Kumpulan orang-orang tolol itu segera memegang lengan beliau dan menegakkannya, menyuruh beliau berdiri. Ketika Rasulullahshalallahu ‘alaihi wa sallam berjalan kembali, mereka langsung melemparinya lagi seraya tertawa terkekeh-kekeh.
Rasulullahshalallahu ‘alaihi wa sallamdan Zaid terkepung di antara mereka, dan segera berlindung memasuki kebun milik Utbah dan Syaibah bin Rabi’ah. Di kebun ini, Rasulullahshalallahu ‘alaihi wa sallam berteduh dan duduk di bawah pohon anggur dengan disaksikan oleh kedua anak Rabi’ah.
Setelah merasa tenang dan aman, beliau memanjatkan untaian do’a, “Ya Allah, kepada-Mu aku mengadukan kelemahanku, kurangnya kesanggupanku dan kerendahan diriku berhadapan dengan manusia…”
Saat itu mungkin masih terngiang di telinga beliau penolakan yang baru saja dialaminya dari para pemuka Bani Tsaqif, tiga orang bersaudara, Abdu Yalil bin Amer, Mas’ud bin Amer dan Habib bin Amer.Salah seorang mereka berkata kasar, “Tercabik-cabiklah kain Ka’bah jika benar Allah telah mengutusmu!” Yang lainnya menyahut seraya menghina, “Apakah Allah tidak menemukan orang selainmu untuk diutus-Nya?” Yang ketiga menimpali, “Demi Allah, aku tidak akan berbicara kepadamu selama-lamanya. Jika benar kamu seorang Rasul sebagaimana yang kamu katakan, niscaya aku tidak pantas berbicara denganmu. Jika kamu berdusta kepada Allah, maka tidak patut kamu kuajak bicara…”
Sungguh penolakan yang mengecewakan. Rasulullahshalallahu ‘alaihi wa sallamtadinya berharap mereka akan menyambut dan memberikan perlindungan. Betapa tidak, di kalangan Bani Tsaqif banyak kerabat yang memiliki hubungan dengan beliau, yakni saudara-saudara ibundanya tercinta yang telah tiada sejak ia berusia 6 tahun.
Beliau lantunkan terus do’anya dengan khusyu. “Engkaulah Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, Engkaulah Pelindung bagi si lemah dan Engkau jualah pelindungku! Kepada siapakah diriku hendak Engkau serahkan? Kepada orang jauh yang berwajah suram terhadapku, ataukah kepada musuh yang akan menguasai diriku?”
***
Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam memang telah mengalami ujian dan cobaan yang panjang. Semua berawal saat beban berat risalah dakwah tersimpan di atas pundaknya. Semua berawal saat kalam mulia Allah Azza wa Jalla mendekap jiwanya.
“Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang Menciptakan, Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah yang Maha pemurah, yang mengajar (manusia) dengan perantaran kalam, Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.”[1]
Semua berawal saat Rabb-nya berseru kepadanya, “Maka sampaikanlah olehmu secara terang-terangan segala apa yang diperintahkan (kepadamu) dan berpalinglah dari orang-orang yang musyrik.”[2]
Mulailah penolakan demi penolakan menghantam dirinya. Penolakan pertama datang dari pamannya sendiri, Abu Lahab, saat beliau mengumpulkan orang-orang Quraisy di sekitar bukit Shafa.
“Celakalah engkau selama-lamanya! Untuk inikah engkau mengumpulkan kami?” begitulah teriaknya waktu itu.
Berikutnya, Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallammulai mendapatkan berbagai macam penghinaan. Saat beliau beribadah mereka selalu mengejeknya. Ada pula orang yang iseng menyimpan kotoran didepan rumahnya; ada yang melempar kotoran; menjerat lehernya; atau menaburkan kotoran dan tanah ke atas kepalanya yang mulia.
Abu Lahab dan istrinya juga Amr bin Hisyam (Abu Jahl), mencoba menghalang-halangi dakwah Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam. Mereka menghasut masyarakat Makkah agar tidak menyenangi Islam. Mereka bersekongkol menahan laju gerak dakwah Islam yang dibawa Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam. Mereka menyebarkan berita-berita buruk tentang beliau; mereka menyebut beliau itu penghina nenek moyang; pemecah belah persatuan bangsa Quraisy; orang gila!
Namun cara-cara busuk itu tidak menyebabkan Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallamberhenti bergerak dan menyerah; bahkan pengikut Islam dari hari ke hari malah semakin bertambah. Para tokoh Quraisy jadi semakin jengkel karenanya. Mereka kemudian menawarkan kompromi. Mereka siap memberikan harta, tahta dan wanita kepada Rasulullah dengan syarat beliau menghentikan dakwahnya. Untuk keperluan ini mereka mengutus Utbah bin Rabi’ah. Namun diplomasi Utbah mengalami kegagalan karena ditolak mentah-mentah oleh beliau.
Para tokoh Quraisy tidak berhenti sampai disana, mereka kemudian melakukan tekanan kepada Abu Thalib agar tidak melindungi Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam. Karena tekanan dari kaumnya demikian kuat Abu Thalib akhirnya berusaha membujuk Rasulullahshalallahu ‘alaihi wa sallam, tapi beliau tetap bersikukuh untuk terus melanjutkan perjuangan dakwah.
Akhirnya orang-orang Quraisy menggunakan cara kekerasan, dengan menyiksa para pengikut Islam yang lemah, yakni mereka yang tidak memiliki kabilah pelindung: Bilal bin Rabah, Sumayyah, Amr bin Yasir, Yasir, dll. Karena semakin kerasnya siksaan dan penghinaan akhirnya Rasulullahshalallahu ‘alaihi wa sallammemerintahkan sebagian sahabatnya untuk berhijrah ke Habasyah (Ethiopia).
Setelah itu Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallammelakukan strategi dakwah yang baru dengan menggencarkan dakwah Islam kepada kabilah-kabilah yang datang ke Mekkah ketika musim haji. Upaya ini dihambat oleh orang-orang Quraisy dengan caramenyebarkan berita-berita bohong tentang Islam kepada para pemimpin kabilah (Contoh: menyebut Muhammad sebagai penyihir, penyair, peramal, dukun, dll).
Sadar upaya-upaya penentangannya tidak membuat Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallammenyerah dalam berdakwah, Quraisy akhirnya merencanakan pembunuhan terhadap beliau. Akan tetapi rencana ini ditentang oleh Bani Hasyim dan Bani Muthalib yang merupakan kerabat Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam. Maka berubahlah rencana itu menjadi pemboikotan yang dituangkan dalam naskah kesepakatan bersama. Mereka memboikot Rasulullah dan para sahabatnya, termasuk memboikot Bani Hasyim dan Bani Muthalib yang memberikan perlindungan kepada Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam. Para pemuka Quraisy sepakat untuk tidak mengadakan jual beli, kawin mengawini dan transaksi lainnya dengan mereka. Pemboikotan berlangsung 3 tahun.
Selama pemboikotan tersebut kaum muslimin berada dalam kesengsaraan, mereka hanya makan daun-daunan dan kulit pohon, walaupun sesekali dikirimi makanan oleh orang-orang yang tersentuh hati nuraninya.
Beberapa bulan setelah peristiwa pemboikotan terjadilah peristiwa yang menyedihkan bagi Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam. Paman beliau, Abu Thalib wafat. Tidak lama kemudian isterinya tercinta, Khadijah pun wafat. Karenanya Quraisy lebih berani melakukan tekanan-tekanan dengan lebih brutal karena Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam tak lagi memiliki seseorang pun yang dapat melindunginya. Kondisi inilah yang membuat Rasulullah pergi ke Thaif bersama Zaid bin Haritsah. Namun para pemuka Thaif malah menolak dan menganiayanya.
***
Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam semakin khusyuk berdo’a, “Asalkan Engkau tidak murka kepadaku, semuanya itu tak kuhiraukan, karena sungguh besar nikmat yang telah Engkau limpahkan kepadaku!”
”Aku berlindung pada sinar cahaya wajah-Mu, yang menerangi kegelapan dan mendatangkan kebajikan dunia dan akhirat, dari murka-Mu yang hendak Engkau tumpahkan kepadaku…hanya Engkaulah yang berhak menegur dan mempersalahkan diriku hingga Engkau ridha. Sungguh tiada daya dan kekuatan apa pun selain atas perkenan-Mu.”
Beliau bersama Zaid dapat kembali ke Makkah di bawah jaminan keamanan yang diberikan Muth’im bin Adiy. Sebelumnya beliau mencoba meminta jaminan keamanan kepada Akhnas bin Syuraiq dan Suhail bin Amer, namun keduanya menolak memberikannya.
Setelah rentetan peristiwa ujian dan cobaan serta penolakan-penolakan yang menyakitkan hati tersebut, Rasulullah shalallahu ’alaihi wa salam terus melangkah dan tidak menyerah. Beliau meneruskan kembali aktivitas dakwahnya. Sebelumnya beliau telah mendatangi kabilah-kabilah di acara-acara musiman. Mereka yang didatanginya ialah Ghassan, Bani Fazarah, Bani Murrah, Bani Sulaim, Bani Abbas, Bani Nasher, Tsa’labah bin Ukabah, Bani al-Harits bin Ka’ab, Bani Udzarah, Qais bin al-Khathim, dan Abu Haisar Anas bin Abu Rafi’.
Pada tahun ke 11 kenabian dan setelahnya, Rasulullah shalallahu ’alaihi wa salam kembali menyeru kabilah-kabilah untuk memeluk Islam dan atau dimintai pembelaannya terhadap penyebaran dakwah Islam. Beliau ditemani Abu Bakar dan Ali bin Abu Thalib mendatangi Bani Amir, Syaiban bin Tsa’labah, Bani Kalb, Bani Hanifah, dan Bani Kindah.
Bani Hanifah, Bani Kalb, dan Bani Kindah menolak Rasulullah shalallahu ’alaihi wa salamsecara halus. Sementara Bani Amir bin Sha’sha’ah menyatakan siap membela Rasulullahshalallahu ’alaihi wa salam dengan syarat setelah memenangkan dakwah merekalah yang harus memegang kekuasaan. Menanggapi hal itu Rasulullah shalallahu ’alaihi wa salam tak memberikan jaminan, ”Urusan itu terserah kepada Allah, diberikan-Nya kepada siapa yang dikehendaki.” Maka salah seorang dari mereka yang bernama Baihah bin Firas berkata,”Apakah kami serahkan leher-leher kami kepada bangsa Arab demi membelamu kemudian setelah Allah memenangkan kamu kekuasaan itu diserahkan kepada selain kami? Kami tidak punya urusan denganmu!”
Lain halnya dengan Bani Syaiban, mereka menolak membela Rasulullah shalallahu ’alaihi wa salam dengan alasan mereka hanya siap membela beliaudalam menghadapi orang-orang Arab saja, tapi tidak siap menghadapi Kisra Persia karena mereka telah melakukan perjanjian tidak akan melakukan pemberontakan terhadap Kisra dan tidak boleh melindungi pemberontak, sedangkan apa yang diserukan Rasulullah shalallahu ’alaihi wa salam tidak akan disenangi oleh para raja.
Selanjutnya Ali yang menyaksikan peristiwa itu berkata, ”Kemudian kami datang ke majelis orang-orang Khazraj sehingga mereka membaiat Nabi shalallahu ’alaihi wa salam. Mereka adalah orang-orang jujur dan bersabar.”
Ya…setelah berbagai peristiwa ujian dan cobaan serta penolakan-penolakan yang menyakitkan hati, Rasulullah shalallahu ’alaihi wa salam akhirnya memperoleh dukungan dan pembelaan dari kaum Aus dan Khazraj—penduduk Yatsrib. Disinilah babak baru dakwah Islam dimulai hingga tegaklah daulah Islam di Madinah.
***
Pergerakan dakwah Rasulullah shalallahu ’alaihi wa salam sejak beliau diangkat menjadi Nabi dan Rasul hingga beliau hijrah, memberikan pelajaran penting bagi kita bahwa dalam dakwah tidak ada kata menyerah. Seorang da’i harus terus melangkah maju ke depan apa pun yang terjadi. Mereka tidak sepantasnya melemah dan mundur hanya karena ada rintangan yang menghadang. Mereka tidak layak menjadi mandeg hanya karena kesedihan demi kesedihan yang dihadapinya. Mereka tidak perlu terganggu oleh hinaan dan cibiran orang hingga merasa galau dan jengkel berkepanjangan.
Para da’i harus terus melaju, karena di dalam dakwah tidak ada kata menyerah…
Sumber bacaan: Manhaj Haraki, Syaikh Munir Muhammad Ghadban

[1] Terjemah Q.S. Al-Alaq ayat 1 – 5
[2] Terjemah Q.S. Al-Hijr ayat 94

Saat Nabi dan Para Sahabat menjadi suporter Romawi


Roman-Persian

الم غُلِبَتِ الرُّومُ فِي أَدْنَى الْأَرْضِوَهُمْ مِنْ بَعْدِ غَلَبِهِمْ سَيَغْلِبُونَ فِي بِضْعِ سِنِينَ لِلَّهِ الْأَمْرُمِنْ قَبْلُ وَمِنْ بَعْدُ وَيَوْمَئِذٍ يَفْرَحُ الْمُؤْمِنُونَ بِنَصْرِ اللَّهِيَنْصُرُ مَنْ يَشَاءُ وَهُوَ الْعَزِيزُ الرَّحِيمُ
“(1) Alif laam Miim, (2) telah dikalahkan bangsa Rumawi, (3) di negeri yang terdekat, dan mereka sesudah dikalahkan itu akan menang, (4) dalam beberapa tahun lagi, bagi Allah-lah urusan sebelum dan sesudah (mereka menang). dan di hari (kemenangan bangsa Rumawi) itu bergembiralah orang-orang yang beriman, (5) karena pertolongan Allah. Dia menolong siapa yang dikehendakiNya. dan Dialah Maha Perkasa lagi Penyayang.” (Q.S. Rum: 1 – 5)
Ayat ini menerangkan bahwa bangsa Romawi telah dikalahkan oleh bangsa Persia di negeri yang dekat dengan kota Mekah, yaitu negeri Syiria. Beberapa tahun kemudian setelah mereka dikalahkan, maka bangsa Romawi akan mengalahkan bangsa Persia sebagai balasan atas kekalahan itu.
Yang dimaksud dengan bangsa Romawi dalam ayat ini ialah Kerajaan Romawi Timur yang berpusat di Konstantinopel, bukan kerajaan Romawi Barat yang berpusat di Roma. Kerajaan Romawi Barat, jauh sebelum peristiwa yang diceritakan dalam ayat ini terjadi, sudah roboh, yaitu pada tahun 476 Masehi.
Bangsa Romawi beragama Nasrani (Ahli Kitab), sedang bangsa Persia beragama Majusi (musyrik).
Ayat ini merupakan sebagian dari ayat-ayat yang memberitakan hal-hal yang gaib yang menunjukkan kemukjizatan Alquran. Dalam ayat ini diterangkan sesuatu peristiwa yang terjadi pada bangsa Romawi. Pada saat ketika bangsa Romawi dikalahkan bangsa Persia, maka turunlah ayat ini yang menerangkan bahwa pada saat ini bangsa Romawi dikalahkan, tetapi kekalahan itu tidak akan lama dideritanya. Tidak lama lagi, hanya dalam beberapa tahun saja, orang-orang Persia pasti dikalahkan oleh orang Romawi. Kekalahan bangsa Romawi ini terjadi sebelum Nabi Muhammad saw berhijrah ke Madinah. Mendengar berita kekalahan bangsa Romawi ini orang-orang musyrik Mekah bergembira, sedang orang-orang yang beriman beserta Nabi bersedih hati.
Sebagaimana diketahui bahwa bangsa Persia beragama Majusi, menyembah api, jadi mereka memperserikatkan Tuhan. Orang-orang Mekah juga mempersekutukan Tuhan (musyrik) dengan menyembah berhala. Oleh karena itu mereka merasa agama mereka dekat dengan agama bangsa Persia, karena sama-sama mempersekutukan Tuhan. Kaum Muslimin merasa agama mereka dekat dengan agama Nasrani, karena mereka sama-sama menganut agama Samawi.
Karena itu kaum musyrik Mekah bergembira atas kemenangan itu, sebagai kemenangan agama politheisme yang mempercayai “banyak Tuhan”, atas agama Samawi yang menganut agama Tauhid. Sebaliknya kaum Muslimin waktu itu bersedih hati karena sikap menentang dari kaum musyrik Mekah semakin bertambah, mereka mencemoohkan kaum Muslimin dengan mengatakan bahwa dalam waktu dekat mereka akan hancur pula, sebagaimana hancurnya bangsa Romawi yang menganut agama Nasrani itu. Kemudian turunlah ayat ini yang menerangkan bahwa bangsa Romawi yang kalah itu, akan mengalahkan bangsa Persia yang baru saja menang itu dalam waktu yang tidak lama, hanya dalam beberapa tahun lagi.
Diriwayatkan bahwa tatkala sampai berita kekalahan bangsa Romawi oleh bangsa Persia itu kepada Rasulullah saw dan para sahabatnya di Mekah, maka merekapun merasa sedih, karena kekalahan itu berarti kekalahan bangsa Romawi yang menganut agama Nasrani yang termasuk agama Samawi dan kemenangan bangsa Persia yang beragama Majusi yang termasuk agama syirik.
Orang-orang musyrik Mekah yang dalam keadaan bergembira itu menemui para sahabat Nabi dan berkata: “Sesungguhnya kamu adalah ahli kitab dan orang Nasrani juga ahli kitab, sesungguhnya saudara kami bangsa Persia yang sama-sama menyembah berhala dengan kami telah mengalahkan saudara kamu itu. Sesungguhnya jika kamu memerangi kami tentu kami akan mengalahkan kamu juga.”
Maka turunlah ayat-ayat ini. Maka keluarlah Abu Bakar menemui orang-orang musyrik, ia berkata: “Bergembirakah kamu karena kemenangan saudara-saudara kamu atas saudara saudara kami? Janganlah kamu terlalu bergembira, demi Allah bangsa Romawi benar-benar akan mengalahkan bangsa Persia, sebagaimana yang telah dikabarkan oleh Nabi kami”.
Maka berdirilah Ubay bin Khalaf menghadap Abu Bakar dan ia berkata: “Engkau berdusta”.
Abu Bakar menjawab: “Engkaulah yang paling berdusta hai musuh Allah. Maukah kamu bertaruh denganku sepuluh ekor unta muda. Jika bangsa Romawi menang dalam waktu tiga tahun yang akan datang, engkau berutang kepadaku sepuluh ekor unta muda, sebaliknya jika bangsa Romawi kalah, maka aku berutang kepadamu sebanyak itu pula”.
Tantangan bertaruh itu diterima oleh Ubay. Kemudian Abu Bakar menyampaikan hal tersebut kepada Rasulullah saw. Rasulullah saw menjawab : “Tambahlah jumlah taruhan itu dan perpanjanglah waktu menunggu”.
Maka Abu Bakarpun pergi, lalu bertemu dengan Ubay. Maka Ubay berkata kepadanya:“Barangkali engkau menyesal dengan taruhan itu”.
Abu Bakar menjawab: “Aku tidak menyesal sedikitpun, marilah kita tambah jumlahnya dan diperpanjang waktunya sehingga menjadi seratus ekor unta muda, dan waktunya sampai sembilan tahun”.
Ubay menerima tantangan Abu Bakar, sesuai dengan anjuran Rasulullah kepada Abu Bakar. Tatkala Abu Bakar akan hijrah ke Madinah, Ubay minta jaminan atas taruhan itu, seandainya bangsa Romawi dikalahkan nanti. Maka Abdurrahman putra Abu Bakar menjaminnya. Tatkala Ubay akan berangkat ke perang Uhud, Abdurrahman minta jaminan kepadanya, seandainya bangsa Persia dikalahkan nanti, maka Abdullah putra Ubay menjaminnya. Tujuh tahun setelah pertaruhan itu bangsa Romawi mengalahkan bangsa Persia dan Abu Bakar menerima kemenangan taruhannya dari ahli warisnya Ubay karena dia mati dalam peperangan Uhud tersebut. Kemudian beliau pergi menyampaikan hal itu kepada Rasulullah saw”. (H.R. Ibnu Jarir, Ibnu Abi Hatim dan Baihaqi)
Sejarah mencatat bahwa tahun 622 Masehi, yaitu setelah tujuh atau delapan tahun kekalahan bangsa Romawi dari bangsa Persia itu, mulailah peperangan baru antara kedua bangsa itu untuk kedua kalinya. Pada permulaan terjadinya peperangan itu telah nampak tanda-tanda kemenangan bangsa Romawi. Sekalipun demikian, ketika sampai kepada kaum musyrik Mekah berita peperangan itu, mereka masih mengharapkan kemenangan berada di pihak Persia. Karena itu Ubay bin Khalaf ketika mengetahui hijrahnya Abu Bakar ke Madinah, ia minta agar putra Abu Bakar, yaitu Abdurrahman menjamin taruhan ayahnya, jika Persia pasti menang. Hal ini diterima oleh Abdurrahman.
Pada tahun 624 Masehi, terjadilah perang Uhud. Ketika Ubay bin Khalaf hendak pergi berperang memerangi kaum Muslimin. Abdurrahman melarangnya, kecuali jika putranya menjamin membayar taruhannya, jika bangsa Romawi menang, maka Abdullah bin Ubay putranya menerima untuk menjaminnya.
Jika melihat berita di atas, maka ada kemungkinannya sebagai berikut: Kemungkinan pertama ialah pada tahun 622 Masehi perang antara Romawi dan Persia itu telah berakhir dengan kemenangan Romawi, karena hubungan komunikasi yang sukar waktu itu, maka berita itu baru sampai ke Mekah setahun kemudian, sehingga Ubay minta jaminan waktu Abu Bakar hijrah, sebaliknya Abdurrahman minta jaminan pula waktu Ubay akan pergi ke peperangan Uhud. Kemungkinan yang kedua ialah peperangan itu berlangsung dari tahun 622-624 Masehi, dan berakhir dengan kemenangan bangsa Romawi.
Dari peristiwa di atas dapat dikemukakan beberapa hal dan pelajaran yang perlu direnungkan dan diamalkan.
Pertama: Ada hubungan antara kemusyrikan dan kekafiran terhadap dakwah dan iman kepada Allah SWT, sebagai sumber agama yang benar di segala tempat dan waktu. Sekalipun negara-negara dahulu belum mempunyai sistem komunikasi yang rapi dan bangsanyapun belum mempunyai hubungan yang kuat seperti sekarang ini, namun antar bangsa-bangsa itu telah mempunyai hubungan batin antara bangsa-bangsa yang menganut agama yang bersumber dari Tuhan di satu pihak dengan bangsa-bangsa yang menganut agama yang tidak bersumber dari Tuhan pada pihak yang lain. Orang-orang musyrik Mekah politheisme menganggap kemenangan bangsa Persia (politheisme) atas bangsa Romawi (Nasrani), sebagai kemenangan mereka juga, sedang kaum Muslimin merasakan kekalahan bangsa Romawi yang beragama Nasrani (samawi) sebagai kekalahan mereka pula, karena mereka masih merasakan agama mereka berasal dari sumber yang satu. Hal ini merupakan suatu faktor yang nyata yang perlu diperhatikan kaum Muslimin dalam menyusun taktik dan strategi dalam berdakwah.
Kedua: Kepercayaan yang mutlak kepada janji dan ketetapan Allah. Hal ini nampak pada ucapan-ucapan Abu Bakar yang penuh keyakinan tanpa ragu-ragu di waktu menetapkan jumlah taruhan dengan Ubay bin Khalaf. Harga unta seratus ekor adalah sangat tinggi waktu itu, kalau tidak karena keyakinan akan kebenaran-kebenaran ayat-ayat Alquran yang ada di dalam hati Abu Bakar, tentulah beliau tidak akan berani mengadakan taruhan sebanyak itu, apalagi jika dibaca sejarah bangsa Romawi, mereka di saat kekalahannya itu dalam keadaan kucar-kacir. Amat sukar diramalkan mereka sanggup mengalahkan bangsa Persia yang dalam keadaan kuat, hanya dalam tiga sampai sembilan tahun mendatang.
Keyakinan yang kuat seperti keyakinan Abu Bakar itu merupakan keyakinan kaum Muslimin, yang tidak dapat digoyahkan oleh apapun, sekalipun dalam bentuk siksaan, ujian, penderitaan, pemboikotan dan sebagainya. Hal ini merupakan modal utama bagi kaum Muslimin menghadapi jihad yang memerlukan waktu yang lama di masa yang akan datang. Jika kaum Muslimin mempunyai keyakinan berusaha seperti kaum Muslimin di masa Rasulullah, pasti pula Allah mendatangkan kemenangan kepada mereka.
Ketiga: Urusan sebelum dan sesudah terjadinya suatu peristiwa adalah urusan Allah, tidak seorangpun yang dapat mencampurinya. Allah-lah yang menentukan segalanya sesuai dengan hikmah dan kebijaksanaan-Nya. Hal ini berarti bahwa kaum Muslimin harus mengembalikan segala urusan kepada Allah saja, baik dalam kejadian seperti di atas, maupun pada kejadian dan peristiwa yang merupakan keseimbangan antara situasi dan keadaan. Kemenangan dan kekalahan, kemajuan dan kemunduran suatu bangsa, demikian pula kelemahan dan kekuatannya yang terjadi di bumi ini, semuanya kembali kepada Allah. Dia berbuat menurut kehendak-Nya. Semua yang terjadi bertitik tolak kepada kehendak Zat yang mutlak itu. Jadi berserah diri dan menerima semua yang telah ditentukan Allah adalah sifat yang harus dipunyai oleh seorang mukmin.Hal ini bukanlah berarti bahwa usaha manusia, tidak ada harganya sedikitpun, tetapi usaha manusia merupakan syarat berhasilnya suatu pekerjaan. Dalam suatu hadis diriwayatkan bahwa seorang Arab Badui melepaskan untanya di muka pintu mesjid Rasulullah, kemudian ia masuk ke mesjid, sambil berkata: “Aku bertawakkal kepada Allah, lalu Nabi bersabda:
“Ikatkanlah unta itu sesudah itu baru engkau bertawakkal.” (H.R. Tirmizi dari Anas bin Malik)
Berdasarkan hadis ini, seorang muslim disuruh berusaha sekuat tenaga, kemudian ia berserah diri kepada Allah tentang hasil usahanya itu.
Akhir ayat ini menerangkan bahwa kaum Muslimin bergembira ketika mendengar berita kemenangan bangsa Romawi atas bangsa Persia itu. Mereka bergembira itu adalah karena:
  1. Mereka telah dapat membuktikan kepada kaum musyrikin Mekah atas kebenaran berita-berita yang ada dalam ayat Alquran.
  2. Kemenangan bangsa Romawi atas bangsa Persia itu, merupakan kemenangan agama Samawi atas agama ciptaan manusia (agama yang dianut oleh kaum Muslimin termasuk bangsa Romawi).
  3. Kemenangan bangsa Romawi atas bangsa Persia ini mengisyaratkan kemenangan kaum Muslimin atas orang-orang kafir Mekah dalam waktu yang tidak lama lagi.
Catatan: Pertaruhan yang terjadi antara Abu Bakar dan Ubay bin Ka’b ini terjadi sebelum pertaruhan dilarang oleh Islam. Sumber bacaan terkait tentang tulisan ini silahkan cek di: Tafsir Ibnu Katsir (jilid 3), Ibnu Katsir, Zaadul Ma’ad, Ibnul Qayyim, Shahih Sirah An-Nabawiyah, Asy-Syaikh Al-Albani, dan Mukhtashar Siratur Rasul, Asy-Syaikh Muhammad Ibnu Abdul Wahab.